PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING

MAKALAH PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING 


DOSEN PENGAMPU

Khurotul Aini M.pd

 


 

 

Disusun Oleh :

 

Meri Eriana41182191180047

Nanda Nur Amalia41182191180060

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENJASKESREK

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM “45” BEKASI

BAB I

 

A. LATAR BELAKANG MASALAH

 

Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani atau dalam mata pelajaran di Indonesia dikenal dengan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), seyogyanya PJOK dengan nuansa pedagogis memiliki tujuan  menghasilkan kualitas gerak manusia pada peserta didiknya, bukan semata-mata keterampilan gerak untuk tujuan prestasi olahraga sebagaimana yang masih banyak dilaksanakan guru dalam pembelajaran. Hal ini akhirnya bagaimanapun upayanya tidak pernah tercapai usaha tersebut, karena ditempuh hanya dengan tatap muka sekali dalam seminggu. Padahal menurut teori bahwa keterampilan gerak dapat dikuasai jika dilakukan latihan yang berulang-ulang, apalagi untuk kebugaran jasmani bisa diperoleh dengan latihan dan setelah 48 jam harus melakukan latihan kembali. Maka dalam pembelajaran PJOK mustahil diperoleh keterampilan dan kebugaran jasmani, jika guru tidak pernah menerapkan tugas mandiri dan non terstruktur diluar jam pembelajaran.

 

Pada konsep pembelajaran PJOK sebenarnya penerapan pendekatan scientifik telah lama diterapkan, jika mengacu pada model-model pembelajaran menurut Muska Mosston

 

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana penerapan model scientific learning dalam pembelajaran pendidikan jasmani bagi  guru PJOK.

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana gaya mengajar scientific learning dalam pembelajaran pendidikan jasmani bagi guru PJOK.

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A. Pengertian Scientific Learning

Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific  approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam permendikbud no 81A tahun 2013 meliputi; mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, mengomunikasikan.

Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’.

Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

B. Sasarana Pendekatan Scientific Learning

Tujuannya adalah mencapai tujuan pembelajaran secara efektif efisien dan harapannya dapat ditempuh dengan singkat. Jadi bagi siswa yang malas belajar akan merasa cocok karena mereka merasa cara gurunya mengajar dapat membuatnya menjadi paham lebih cepat dan mudah. Itu tantangan tersbesar setiap guru, mencerdaskan peserta didik dengan kemampuan di bawah peserta didik yang pandai.

 

C. Pelaksanaan pendekatan Scientific Learning

 

A. Pra pertemuan 
1. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran,
2. memberi motivasi belajar kepada peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik dan jenjang peserta didik,
3. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari,
4. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan
5. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

B. Saat pertemuan

1. materi pelajaran yang disampaikan harusmengacu pada rencana pembelajaran,
2. pembelajaran harus diawali pada gerak perbagiandan kearah gerakan yang lebih komplek,
3. frekuensi unjuk kerja  gerak setiap peserta didikharus disesuaikan dan sebanyak mungkinsehingga memperoleh otomatisasi gerakan,
4. gunakan alat dan fasilitas olahraga yang tersediaseefektif mungkin,
5. atur alokasi waktu setiap tahapan kegiatan yang dilakukan,
6. selama kegiatan pembelajaran guru wajibmemberikan koreksi kepada siswa baik secara   individual atau kelompokserta memberikanmotivasi dan penguatan kepada peserta didik,
7. pelaksanaan kegiatan pembelajaran gerak harusdibuat bervariasi untuk menghindari kebosanansiswaDalam tahapan ini kegiatan dibagi menjadiduapertama tahap mempelajari gerakanketerampilan yang masih asingkedua menguasaikoordinasi gerakan sesuai dengan batasan-batasankemampuannya.

C. . Pasca pertemuan

1. semua aktivitas belajar yang sudah dilakukanselanjutnya secara bersama-sama mencari dan menemukan manfaat dari kegiatan pembelajaran,
2. memberikan umpan balik (motivasidllterhadapproses dan hasil belajar siswa,
3. memberikan penanganan tindak lanjut kepada siswayang berupa tugasbaik secara individual ataukelompok, dan
4. memberikan informasi tentang rencana kegiatanpertemuan berikutnya.

 

D. Kekurangan dan Kelebihan Scientific Learning
A. Kekurangan:
Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar.
Tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
Harapan-harapan yang terkandung dalam model ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan ditemukan.

 

B. Kelebihan:
Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan- keterampilan dan proses-proses kognitif.
Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerjasama denagn yang lainnya.
Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.
Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya.
Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Pendekatan saintifik pada pelajaran penjasorkes tidak hanya soal fisik, tetapi ia meliputi aspek motoric, kognitif dan afektif.Penjaskesor dapat menyehatkan raga, jiwa dan pikiran.Kurikulum 2013 telah menekankan pendekatan saintifik melalui beberapa komponen, yaitu mengamati, menanya,menalar, mencoba dan mengkomunikasikan. Setiapkegiatan pembelajaran dengan melalui proses itu

(5M) akan dapat membentuk karakter dan jati diri peserta didik seperti yang diharapkan.

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

https://journal.uny.ac.id/index.php/jpji/article/viewFile/17111/10009

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pendekatan_saintifik

https://activemovement.net/pelaksanaan-pembelajaran-pendidikan-jasmani-olahraga-kesehatan-di-sekolah/

Komentar